Perang Dunia II : Perang ‘Total’ Axis vs Sekutu

A. Konflik

Negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional yang bersifat rasional dan monolith, jadi bisa memperhitungkan cost and benefit dari setiap tindakannya dalam mempertahankan keamanan nasional sehingga focus dari penganut faham realism adalah struggle for power atau realpolitic. Kemudian realism berpendapat bahwa sifat dasar interaksi dalam system internasional yakni anarki, kompetitif, kerap kali terjadi konflik, dan kerjasama dibangun hanya untuk kepentingan jangka pendek. Ketertiban dan stabilitas hubungan internasional hanya akan dicapai melalui distribusi kekeuatan ( Perwita dan Yani, 2006: 27).
Dalam sejarah manusia, konflik selalu hadir setiap waktu. Manusia tidak akan lepas dari konflik, baik itu konflik individu atau konflik kelompok. Semua mengacu pada satu atau lebih masalah yang menjadi penyebab terjadinya konflik. Secara terminologis, konflik berasal dari kata configure (Greek) yang berarti saling memukul. Sedangkan secara umum, Konflik adalah suatu bentuk hubungan interaksi social seseorang dengan orang lain atau suatu kelompok dengan kelompok lain, dimana masing-masing pihak secara sadar, berkemauan, berpeluang dan berkemampuan saling melakukan tindakan untuk mempertentangkan suatu isu yang diangkat dan dipermasalahkan antara yang satu dengan yang lain berdasarkan alasan tertentu.
Konflik vertical adalah suatu hubungan interaksi antara satu kelas social yang berbeda tingkatan akibat adanya pertentangan kepentingan yang difasilitasi atau kelompok sosial yang berbeda di satu pihak dengan satu kelompok di pihak lainnya.
Konflik horizontal adalah suatu hubungan interaksi vertikal (antar kelas sosial) yang memanfaatkan secara sengaja menciptakan konflik horizontal, dan atau sebaliknya suatu konflik horizontal yang memanfaatkan/secara sengaja menciptakan konflik, sebagai kamuplase atau cara untuk mendukung terwujudnya tujuan atau kondisi yang dikehendaki.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik terjadi bila terdapat dua hal. Pertama, konflik bisa terjadi bila sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang secara potensial dan praktis/operasional dapat saling menghambat. Secara potensial artinya, mereka memiliki kemampuan untuk menghambat. Secara praktis/operasional maksudnya kemampuan tadi bisa diwujudkan dan ada didalam keadaan yang memungkinkan perwujudannya secara mudah. Artinya, bila kedua belah pihak tidak dapat menghambat atau tidak melihat pihak lain sebagai hambatan, maka konflik tidak akan terjadi. Kedua, konflik dapat terjadi bila ada sesuatu sasaran yang sama-sama dikejar oleh kedua pihak, namun hanya salah satu pihak yang akan memungkinkan mencapainya.
Faktor penyebab konflik
- Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
- Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
- Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
- Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

B. PERANG
Perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik antara dua kelompok atau lebih untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang secara purba di maknai sebagai pertikaian bersenjata, di era modern, perang lebih mengarah pada superioritas teknologi dan industri, hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti “Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia”, hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi. Namun kata Perang tidak lagi berperan sebagai kata kerja, namun sudah bergeser pada kata sifat, yang mempopulerkan hal ini adalah para jurnalis, sehingga lambat laun pergeseran ini mendapatkan posisinya, namun secara umum perang berarti “pertentangan”
Invasi pada dasarnya dilakukan untuk memperluas wilayah dan kepentingan politik. Namun, motif-motif lainnya juga pernah terjadi, antara lain, pengembalian wilayah yang dulu diambil; idealisme keagamaan; politik untuk kepentingan nasional; pengejaran musuh-musuh; perlindungan terhadap negara sekutu; mengambil alih daerah jajahan; serangan preemptif sebelum diserang; melindungi atau mengambil rute transportasi atau sumber daya alam, seperti air dan minyak; menengahi konflik antar dua pihak lain; dan sebagai sanksi militer.

Pada abad ke-19 juga muncul motif dimana negara-negara kuat dan adidaya mencoba untuk mengatur politik dunia, misalnya dengan merubah pemerintahan atau rezim suatu negara lain. Pada kasus-kasus ini sering juga para penyerang beralasan bahwa mereka “melindungi” daerah yang diinvasi. Pada politik modern masa kini, agar terhindar dari tuduhan imperialisme, pihak yang menyerang sering mencap suatu invasi sebagai suatu “intervensi” untuk kepentingan bersama.

Penyebab terjadinya Perang
Secara spesifik dan wilayah filosofis, perang merupakan turunan sifat dasar manusia yang tetap sampai sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri. Dengan mulai secara psikologis dan fisik. Dengan melibatkan diri sendiri dan orang lain, baik secara kelompok atau bukan. Perang dapat mengakibatkan kesedihan dan kemiskinan yang berkepanjangan. Sebagai contoh perang dunia yang mengakibatkan hilangngnya nyawa beratus-ratus orang di Jepang dan tentu saja hal ini mengakibatkan kesedihan mendalam dalam diri masyarakat Jepang. Serta, kekacauan di Eropa pasca perang yang mengakibatkan kemiskinan dan kelaparan masyarakat Eropa.

Penyebab terjadinya perang di antaranya adalah:
• Perbedaan ideologi
• Keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan
• Perbedaan kepentingan negara
• Perampasan Sumber Daya Alam (minyak, hasil pertanian, dll)

Studi Kasus
Perang Dunia II adalah perang ‘total’ yang merupakan perang terbesar yang terjadi sepanjang peradaban manusia yang melibatkan personil terbanyak yaitu 100 juta personil. Perang yang berkecamuk sejak 1 September 1939 sampai 2 September 1945 melibatkan sebagian besar Negara-negara di dunia dengan pembagian 2 kubu yaitu Sekutu dan Poros. Kedua pihak yang terlibat mengerahkan seluruh bidang ekonomi, industri, dan kemampuan ilmiah untuk melayani usaha perang, menghapus perbedaan antara sipil dan sumber-sumber militer. Sehingga, bisa dikatakan perang ini merupakan perang yang sangat menyita dari segi manapun. Bukan hanya di darat, perang ini juga berkecamuk dengan dahsyat di laut dan udara. Kebanyakan Perang ini pecah di tiga benua, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika. Di wilayah Eropa, meletusnya perang ditandai dengan penembakan sebuah garnisun militer Polandia di muara Sungai Vitsula oleh kapal perang Jerman, Schleswig Holstein pada tahun 1939. Sedangkan, di wilayah Asia, penyerangan militer tanpa pemberitahuan oleh Jepang terhadap Pearl Harbour, pangkalan militer AS di Asia Pasifik menandai meletusnya perang di Asia pada tahun 1941. Di Afrika, pecahnya perang ditandai dengan penyerangan pasukan Italia di Mesir untuk merebut Terusan Zues pada tahun 1940.
Meletusnya Perang Dunia II tahun 1939 disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1) Sebab-sebab umum meletusnya Perang Dunia II di antaranya:
• Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dalam menjalankan tugasnya.
• Munculnya politik alinasi (politik mencari kawan).
• Kekacauan dalam bidang ekonomi.
• Munculnya paham ultranasionalisme (nasionalisme yang berlebih-lebihan).
• Jerman tidak lagi mengakui lagi Perjanjian Versailles.
2) Sebab khusus: menurut Perjanjian Versailles wilayah Prusia Timur (Jerman) dipisahkan dari Jerman dengan dibentuknya negara Polandia (jalan keluar Jerman menuju ke laut). Di tengah-tengah negara Polandia terletak kota Danzig yang dituntut oleh Jerman, karena penduduknya adalah bangsa Jerman. Sedangkan Polandia menolak untuk menyerahkan kota Danzig, bahkan Polandia menjalin hubungan dengan mengadakan perjanjian dengan Inggris, Perancis, Rumania dan Yunani dengan suatu keputusan untuk saling menjamin kemerdekaan masing-masing negara. Hitler menjawab dengan mengadakan Perjanjian Jerman-Rusia (23 Agustus 1939), yaitu perjanjian non-agresi, di mana kedua negara tidak akan saling menyerang. Pada tanggal 1 September 1939, Jerman menyerang Polandia dan meletuslah Perang Dunia II. Selanjutnya tanggal 3 September 1939 Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman.

A. Kronologi Perang Dunia II

Asia dan Pasifik
a. 1937: Perang Sino-Jepang.
Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sesudah pertikaian di Eropa. Jepang telah menginvasi Cina pada tahun 1931, jauh sebelum Perang Dunia II dimulai di Eropa. Pada 1 Maret, Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi kaisar di Manchukuo, negara boneka bentukan Jepang di Manchuria. Pada 1937, perang telah dimulai ketika Jepang mengambil alih Manchuria. Roosevelt menandatangani sebuah perintah eksekutif yang tidak diterbitkan (rahasia) pada Mei 1940 mengijinkan personel militer AS untuk mundur dari tugas, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam operasi terselubung di Cina sebagai “American Volunteer Group” (AVG), juga dikenal sebagai Harimau Terbang Chennault. Selama periode tujuh bulan, kelompok Harimau Terbang berhasil menghancurkan sekitar 600 pesawat Jepang, menenggelamkan sejumlah kapal Jepang, dan menghentikan invasi Jepang terhadap Burma. Dengan adanya tindakan Amerika Serikat dan negara lainnya yang memotong ekspor ke Jepang, maka Jepang merencanakan serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 tanpa peringatan deklarasi perang; sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada Armada Pasifik Amerika. Hari berikutnya, pasukan Jepang tiba di Hong Kong, yang kemudian menyebabkan menyerahnya pasukan Inggris pada Hari Natal di bulan itu.

b. 1940: Jajahan Perancis Vichy
Pada 1940, Jepang menduduki Indocina Perancis (kini Vietnam) sesuai persetujuan dengan Pemerintahan Vichy meskipun secara lokal terdapat kekuatan oleh tentara Pembebasan Perancis (Forces Françaises Libres/FFL), dan bergabung dengan kekuatan Poros Jerman dan Italia. Aksi ini menguatkan konflik Jepang dengan Amerika Serikat dan Britania Raya yang bereaksi dengan boikot minyak.

c. 1941: Pearl Harbor
A.S. turut serta dalam perang, invasi Jepang di Asia Tenggara. Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang. Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina, dan juga koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma, dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dalam sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

d. 1942: Invasi Hindia-Belanda.
Penyerbuan ke Hindia Belanda diawali dengan serangan Jepang ke Labuan, Brunei, Singapura, Semenanjung Malaya, Palembang, Tarakan dan Balikpapan yang merupakan daerah-daerah sumber minyak. Jepang sengaja mengambil taktik tersebut sebagai taktik gurita yang bertujuan mengisolasi kekuatan Hindia Belanda dan Sekutunya yang tergabung dalam front ABDA (America (Amerika Serikat), British (Inggris), Dutch (Belanda), Australia) yang berkedudukan di Bandung. Serangan-serangan itu mengakibatkan kehancuran pada armada laut ABDA khususnya Australia dan Belanda. Sejak peristiwa ini, Sekutu akhirnya memindahkan basis pertahanannya ke Australia meskipun demikian Sekutu masih mempertahankan beberapa kekuatannya di Hindia Belanda agar tidak membuat Hindia Belanda merasa ditinggalkan dalam pertempuran ini. Jepang mengadakan serangan laut besar-besaran ke Pulau Jawa pada bulan Februari-Maret 1942 dimana terjadi Pertempuran Laut Jawa antara armada laut Jepang melawan armada gabungan yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman. Armada Gabungan sekutu kalah dan Karel Doorman gugur. Jepang menyerbu Batavia (Jakarta) yang akhirnya dinyatakan sebagai kota terbuka, kemudian terus menembus Subang dan berhasil menembus garis pertahanan Lembang-Ciater, kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan Sekutu-Hindia Belanda terancam. Sementara di front Jawa Timur, tentara Jepang berhasil menyerang Surabaya sehingga kekuatan Belanda ditarik sampai garis pertahanan Porong. Terancamnya kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan dan pengungsian membuat panglima Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten mengambil inisiatif mengadakan perdamaian. Kemudian diadakannya perundingan antara Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura dengan pihak Belanda yang diwakili Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral jhr A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada Awalnya Belanda bermaksud menyerahkan kota Bandung namun tidak mengadakan kapitulasi atau penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada Pihak Jepang. Pada saat itu posisi Panglima tertinggi angkatan perang Hindia Belanda tidak lagi berada pada Gubernur Jendral namun diserahkan kepada Ter Poorten sehingga dilain waktu Belanda menganggap bahwa kedudukan di Hindia Belanda masih tetap sah dilanjutkan. Namun setelah Jepang mengancam akan mengebom kota Bandung akhirnya Jendral Ter Poorten setuju untuk menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

e. 1942: Laut Coral, Port Moresby, Midway, Guadalcanal
Pada Mei 1942, serangan laut terhadap Port Moresby, Papua Nugini digagalkan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Laut Coral. Kalau saja penguasaan Port Moresby berhasil, Angkatan Laut Jepang dapat juga menyerang Australia. Ini merupakan perlawanan pertama yang berhasil terhadap rencana Jepang dan pertarungan laut pertama yang hanya menggunakan kapal induk. Sebulan kemudian invasi Atol Midway dapat dicegah dengan terpecahnya pesan rahasia Jepang, menyebabkan pemimpin Angkatan Laut AS mengetahui target berikut Jepang yaitu Atol Midway. Pertempuran ini menyebabkan Jepang kehilangan empat kapal induk yang industri Jepang tidak dapat menggantikannya, sementara Angkatan Laut AS kehilangan satu kapal induk. Kemenangan besar buat AS ini menyebabkan Angkatan Laut Jepang kini dalam posisi bertahan. Namun, dalam bulan Juli penyerangan darat terhadap Port Moresby dijalankan melalui Track Kokoda yang kasar. Di sini pasukan Jepang bertemu dengan pasukan cadangan Australia, banyak dari mereka masih muda dan tak terlatih, menjalankan aksi perang dengan keras kepala menjaga garis belakang sampai tibanya pasukan reguler Australia dari aksi di Afrika Utara, Yunani dan Timur Tengah. Para pemimpin Sekutu telah setuju mengalahkan Nazi Jerman adalah prioritas utama masuknya Amerika ke dalam perang. Namun pasukan AS dan Australia mulai menyerang wilayah yang telah jatuh, mulai dari Pulau Guadalcanal, melawan tentara Jepang yang getir dan bertahan kukuh. Pada 7 Agustus 1942 pulau tersebut diserang oleh Amerika Serikat. Pada akhir Agustus dan awal September, selagi perang berkecamuk di Guadalcanal, sebuah serangan amfibi Jepang di timur New Guinea dihadapi oleh pasukan Australia dalam Teluk Milne, dan pasukan darat Jepang menderita kekalahan meyakinkan yang pertama. Di Guadalcanal, pertahanan Jepang runtuh pada Februari 1943.

f. 1943–1945: Serangan Sekutu di Asia dan Pasifik
Pasukan Australia and AS melancarkan kampanye yang panjang untuk merebut kembali bagian yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea dan Hindia Belanda, dan mengalami beberapa perlawanan paling sengit selama perang. Seluruh Kepulauan Solomon direbut kembali pada tahun 1943, New Britain dan New Ireland pada tahun 1944. Pada saat Filipina sedang direbut kembali pada akhir tahun 1944, Pertempuran Teluk Leyte berkecamuk, yang disebut sebagai perang laut terbesar sepanjang sejarah. Serangan besar terakhir di area Pasifik barat daya adalah kampanye Borneo pertengahan tahun 1945, yang ditujukan untuk mengucilkan sisa-sisa pasukan Jepang di Asia Tenggara, dan menyelamatkan tawanan perang Sekutu. Kapal selam dan pesawat-pesawat Sekutu juga menyerang kapal dagang Jepang, yang menyebabkan industri di Jepang kekurangan bahan baku. Bahan baku industri sendiri merupakan salah satu alasan Jepang memulai perang di Asia. Keadaan ini semakin efektif setelah Marinir AS merebut pulau-pulau yang lebih dekat ke kepulauan Jepang. Tentara Nasionalis Cina (Kuomintang) dibawah pimpinan Chiang Kai-shek dan Tentara Komunis Cina dibawah Mao Zedong, keduanya sama-sama menentang pendudukan Jepang terhadap Cina, tetapi tidak pernah benar-benar bersekutu untuk melawan Jepang. Konflik kedua kekuatan ini telah lama terjadi jauh sebelum Perang Dunia II dimulai, yang terus berlanjut, sampai batasan tertentu selama perang, walaupun lebih tidak kelihatan. Pasukan Jepang telah merebut sebagian dari Burma, memutuskan Jalan Burma yang digunakan oleh Sekutu untuk memasok Tentara Nasionalis Cina. Hal ini menyebabkan Sekutu harus menyusun suatu logistik udara berkelanjutan yang besar, yang lebih dikenal sebagai “flying the Hump”. Divisi-divisi Cina yang dipimpin dan dilatih oleh AS, satu divisi Inggris, dan beberapa ribu tentara AS, membersihkan Burma utara dari pasukan Jepang sehingga Jalan Ledo dapat dibangun untuk menggantikan Jalan Burma. Lebih ke selatan, induk dari tentara Jepang di kawasan perang ini berperang sampai terhenti di perbatasan Burma-India oleh Tentara ke-14 Inggris yang dikenal sebagai “Forgotten Army”, yang dipimpin oleh Mayor Jendral Wingate yang kemudian melancarkan serangan balik dan berhasil dengan taktik gerilyanya yang terkenal dan bahkan dijadikan acuan bagi Tentara dan Pejuang Indonesia pada tahun 1945-1949. Setelah merebut kembali seluruh Burma, serangan direncanakan ke semenanjung Malaya ketika perang berakhir.

g. 1945: Iwo Jima, Okinawa, bom atom, penyerahan Jepang
Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Diantara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut. Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki. Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.

Afrika dan Timur Tengah

a. 1940: Mesir dan Somaliland
Pertempuran di Afrika Utara bermula pada 1940, ketika sejumlah kecil pasukan Inggris di Mesir memukul balik serangan pasukan Italia dari Libya yang bertujuan untuk merebut Mesir terutama Terusan Suez yang vital. Tentara Inggris, India, dan Australia melancarkan serangan balik dengan sandi Operasi Kompas (Operation Compass), yang terhenti pada 1941 ketika sebagian besar pasukan Persemakmuran (Commonwealth) dipindahkan ke Yunani untuk mempertahankannya dari serangan Jerman. Tetapi pasukan Jerman yang belakangan dikenal sebagai Korps Afrika di bawah pimpinan Erwin Rommel mendarat di Libya, melanjutkan serangan terhadap Mesir.

b. 1941: Suriah, Lebanon, Korps Afrika merebut Tobruk
Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17 Juni. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi. Pemberontakan didukung oleh Mufti Besar Yerusalem, Haji Amin al-Husseini. Oleh karena merasa garis belakangnya terancam, Inggris mendatangkan bala bantuan dari India dan menduduki Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara Rashid Ali dan Mufti Besar Yerusalem melarikan diri ke Iran. Namun kemudian Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran serta menggulingkan shah Iran yang pro-Jerman. Kedua tokoh Arab yang pro-Nazi di atas kemudian melarikan diri ke Eropa melalui Turki, di mana mereka kemudian bekerja sama dengan Hitler untuk menyingkirkan orang Inggris dan orang Yahudi. Korps Afrika dibawah Rommel melangkah maju dengan cepat ke arah timur, merebut kota pelabuhan Tobruk. Pasukan Australia dan Inggris di kota tersebut berhasil bertahan hingga serangan Poros berhasil merebut kota tersebut dan memaksa Divisi Ke-8 (Eighth Army) mundur ke garis di El Alamein.

c. 1942: Pertempuran El Alamein Pertama dan Kedua
Pertempuran El Alamein Pertama terjadi di antara 1 Juli dan 27 Juli 1942. Pasukan Jerman sudah maju ke yang titik pertahanan terakhir sebelum Alexandria dan Terusan Suez. Namun mereka telah kehabisan suplai, dan pertahanan Inggris dan Persemakmuran menghentikan arah mereka. Pertempuran El Alamein Kedua terjadi di antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai “Rubah Gurun”, absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa. Montgomery tahu Rommel absen. Pasukan Persemakmuran melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran, Montgomery memenangkan pertempuran ini. Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagipula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela angkasa udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel. Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel membuat penarikan strategis yang cemerlang ke Tunisia. Banyak sejarawan berpendapat bahwa berhasilnya Rommel pada penarikan strategis Korps Afrika dari Mesir lebih mengesankan daripada kemenangannya yang lebih awal, termasuk Tobruk, karena dia berhasil membuat seluruh pasukannya kembali utuh, melawan keunggulan udara Sekutu dan pasukan Persemakmuran yang sekarang diperkuat oleh pasukan AS.

d. 1942: Operasi Obor (Operation Torch), Afrika Utara Perancis
Untuk melengkapi kemenangan ini, pada 8 November 1942 dilancarkanlah Operasi Obor (Operation Torch) dibawah pimpinan Jendral Dwight Eisenhower. Tujuan utama operasi ini adalah merebut kontrol terhadap Maroko dan Aljazair melalui pendaratan simultan di Casablanca, Oran, dan Aljazair, yang dilanjutkan beberapa hari kemudian dengan pendaratan di Bône, gerbang menuju Tunisia. Pasukan lokal di bawah Perancis Vichy sempat melakukan perlawanan terbatas, sebelum akhirnya bersedia bernegosiasi dan mengakhiri perlawanan mereka.

e. 1943: Kalahnya Korps Afrika.
Korps Afrika tidak mendapat suplai secara memadai akibat dari hilangnya pengapalan suplai oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sekutu, terutama Inggris, di Laut Tengah. Kekurangan persediaan ini dan tak adanya dukungan udara, memusnahkan kesempatan untuk melancarkan serangan besar bagi Jerman di Afrika. Pasukan Jerman dan Italia terjepit diantara pergerakan maju pasukan Sekutu di Aljazair dan Libia. Pasukan Jerman yang sedang mundur terus melakukan perlawanan sengit, dan Rommel mengalahkan pasukan AS pada Pertempuran Kasserine Pass sebelum menyelesaikan pergerakan mundur strategisnya menuju garis suplai Jerman. Dengan pasti, bergerak maju baik dari arah timur dan barat, pasukan Sekutu akhirnya mengalahkan Korps Afrika Jerman pada 13 Mei 1943 dan menawan 250.000 tentara Poros. Setelah jatuh ke tangan Sekutu, Afrika Utara dijadikan batu loncatan untuk menyerang Sisilia pada 10 Juli 1943. Setelah merebut Sisilia, pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Italia pada 3 September 1943. Italia menyerah pada 8 September 1943, tetapi pasukan Jerman terus bertahan melakukan perlawanan. Roma akhirnya dapat direbut pada 5 Juni 1944.

Eropa dan Rusia (Uni Soviet)

a. 1939: Invasi Polandia, Invasi Finlandia
Salah satu foto bewarna Perang Dunia II yang selamat dari 40 juta foto hitam putih lainnya. Tampak di tengah-tengah Adolf Hitler. Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka. Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman “Luftwaffe”. Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitment mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939. Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov. Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa dihancurkan, sementara sisa sisa pemimpin Polandia melarikan diri diantaranya ke Rumania. Sementara yang lain ditahan baik oleh Uni Soviet maupun Nazi. Tentara Polandia terakhir dikalahkan pada 6 Oktober. Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang saat itu dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman. Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman. Invasi ke Polandia ini juga mengawali praktek-praktek kejam Pasukan SS dibawah Heinrich Himmler terhadap orang orang Yahudi. Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah. Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian.

b. 1940: Invasi Eropa Barat, Republik-republik Baltik, Yunani, Balkan
Dengan tiba-tiba Jerman menyerang Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940 melalui Operasi Weserübung, yang terlihat untuk mencegah serangan Sekutu melalui wilayah tersebut. Pasukan Inggris, Perancis, dan Polandia mendarat di Namsos, Andalsnes, dan Narvik untuk membantu Norwegia. Pada awal Juni, semua tentara Sekutu dievakuasi dan Norwegia-pun menyerah. Operasi Fall Gelb, invasi Benelux dan Perancis, dilakukan oleh Jerman pada 10 Mei 1940, mengakhiri apa yang disebut dengan “Perang Pura-Pura” (Phony War) dan memulai Pertempuran Perancis. Pada tahap awal invasi, tentara Jerman menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg untuk menghindari Garis Maginot dan berhasil memecah pasukan Sekutu dengan melaju sampai ke Selat Inggris. Negara-negara Benelux dengan cepat jatuh ke tangan Jerman, yang kemudian melanjutkan tahap berikutnya dengan menyerang Perancis. Pasukan Ekspedisi Inggris (British Expeditionary Force) yang terperangkap di utara kemudian dievakuasi melalui Dunkirk dengan Operasi Dinamo. Tentara Jerman tidak terbendung, melaju melewati Garis Maginot sampai ke arah pantai Atlantik, menyebabkan Perancis mendeklarasikan gencatan senjata pada 22 Juni dan terbentuklah pemerintahan boneka Vichy. Pada Juni 1940, Uni Soviet memasuki Latvia, Lituania, dan Estonia serta menganeksasi Bessarabia dan Bukovina Utara dari Rumania. Jerman bersiap untuk melancarkan serangan ke Inggris dan dimulailah apa yang disebut dengan Pertempuran Inggris atau Battle of Britain, perang udara antara AU Jerman Luftwaffe melawan AU Inggris Royal Air Force pada tahun 1940 memperebutkan kontrol atas angkasa Inggris. Jerman berhasil dikalahkan dan membatalkan Operasi Singa Laut atau Seelowe untuk menginvasi daratan Inggris. Hal itu dikarenakan perubahan strategi Luftwaffe dari menyerang landasan udara dan industri perang berubah menjadi serangan besar-besaran pesawat pembom ke London. Sebelumnya terjadi pemboman kota Berlin yang ddasarkan pembalasan atas ketidaksengajaan pesawat pembom Jerman yang menyerang London. Alhasil pilot peswat tempur Spitfire dan Huricane dapat beristirahat. Perang juga berkecamuk di laut, pada Pertempuran Atlantik kapal-kapal selam Jerman (U-Boat) berusaha untuk menenggelamkan kapal dagang yang membawa suplai kebutuhan ke Inggris dari Amerika Serikat. Pada 27 September 1940, ditanda tanganilah pakta tripartit oleh Jerman, Italia, dan Jepang yang secara formal membentuk persekutuan dengan nama (Kekuatan Poros). Italia menyerbu Yunani pada 28 Oktober 1940 melalui Albania, tetapi dapat ditahan oleh pasukan Yunani yang bahkan menyerang balik ke Albania. Hitler kemudian mengirim tentara untuk membantu Mussolini berperang melawan Yunani. Pertempuran juga meluas hingga wilayah yang dikenal sebagai wilayah bekas Yugoslavia. Pasukan NAZI mendapat dukungan dari sebagian Kroasia dan Bosnia, yang merupakan konflik laten di daerah itu sepeninggal Kerajaan Ottoman. Namun Pasukan Nazi mendapat perlawanan hebat dari kaum Nasionalis yang didominasi oleh Serbia dan beberapa etnis lainnya yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Pertempuran dengan kaum Nazi merupakan salah satu bibit pertempuran antar etnis di wilayah bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.

c. 1941: Invasi Uni Soviet
Operasi Barbarossa, invasi Uni Soviet dilakukan oleh Jerman. Pertempuran Stalingrad.

d. 1944: Serangan Balik.
Pasukan Amerika Serikat melakukan invasi di Pantai Omaha. Invasi Normandia (D-Day), invasi di Perancis oleh pasukan Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 1944.

e. 1945: Runtuhnya Kerajaan Nazi Jerman.
Pada akhir bulan april 1945, ibukota Jerman yaitu Berlin sudah dikepung oleh Uni Soviet dan pada tanggal 1 Mei 1945, Adolf Hitler bunuh diri bersama dengan istrinya Eva Braun didalam bunkernya, sehari sebelumnya Adolf Hitler menikahi Eva Braun, dan setelah mati ia memerintahkan pengawalnya untuk membakar mayatnya. Setelah menyalami setiap anggotanya yang masih setia. Pada tanggal 2 Mei, Karl Dönitz diangkat menjadi pemimpin menggantikan Adolf Hitler dan menyatakan Berlin menyerah pada tanggal itu juga. Disusul Pasukan Jerman di Italia yang menyerah pada hari yang sama. Pasukan Jerman di wilayah Jerman Utara, Denmark dan Belanda menyerah pada tanggal 4 Mei. Sisa pasukan Jerman dibawah pimpinan Alfred Jodl menyerah tanggal 7 Mei di Rheims, Perancis. Tanggal 8 Mei, penduduk di negara-negara sekutu merayakan hari kemenangan, tetapi Uni Soviet merayakan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei dengan tujuan politik tersendiri.

B. Pasca Perang
Setelah Perang Dunia II berakhir, maka negara-negara yang terlibat dalam perang itu, baik yang menang perang maupun yang kalah perang menempuh upaya perdamaian. Upaya perdamaian itu dilakukan dengan perjanjian perdamaian. Berbagai perjanjian perdamaian yang pernah dilakukan di antaranya:
- Konferensi Postdam (2 Agustus 1945) antara Jerman dengan Sekutu yang dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman, Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin dan perwakilan dari Inggris Clement Richard Attlee, telah melahirkan keputusan-keputusan antara lain:
1. Jerman dibagi atas empat daerah pendudukan yaitu Jerman Timur dikuasai oleh Rusia, Jerman Barat dikuasai oleh Amerika Serikat, Inggris, Perancis. Begitu pula kota Berlin yang terletak di tengah-tengah daerah pendudukan Rusia dibagi menjadi empat yaitu Berlin Timur dikuasai oleh Rusia dan Berlin Barat dikuasai oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.
2. Danzig dan daerah Jerman bagian timur Sungai Order dan Neisse diberikan kepada Polandia.
3. Demiliterisasi Jerman.
4. Penjahat perang harus dihukum.
5. Jerman harus membayar ganti rugi perang.
- Perjanjian Perdamaian Sekutu dengan Jepang (1945 di Jepang) melahirkan keputusan-keputusan antara lain:
1. Kepulauan Jepang diberikan kepada tentara pendudukan Amerika Serikat (untuk sementara).
2. Kepulauan Kuril dan Sakhalin diserahkan kepada Rusia sedangkan Manchuria dan Taiwan diserahkan kepada Cina. Kepulauan-kepulauan Jepang di Pasifik diserahkan kepada Amerika Serikat. Korea akan dimerdekakan dan untuk sementara waktu bagian selatan Korea diduduki oleh Amerika Serikat sedangkan bagian utara diduduki oleh Rusia.
- Perjanjian Perdamaian Sekutu dengan Italia (1945 di Paris) melahirkan keputusan-keputusan antara lain:
1. Daerah Italia diperkecil.
2. Trieste menjadi negara merdeka di bawah PBB.
3. Abessynia dan Alabania dimerdekakan kembali.
4. Semua jajahan Italia di Afrika Utara diambil Inggris.
5. Italia harus membayar kerugian perang.
- Perjanjian Perdamaian Sekutu dengan Austria (1945 di Austria) melahirkan keputusan-keputusan antara lain:
1. Kota Wina dibagi atas 4 daerah pendudukan di bawah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia.
2. Syarat-syarat lain belum dapat ditentukan pada saat itu karena keempat negara tersebut belum dapat mengadakan persetujuan.
- Perjanjian Sekutu dengan Hongaria, Bulgaria, Rumania, Finlandia, ditentukan di Paris tahun 1945 dan melahirkan keputusan-keputusan antara lain:
1. Masing-masing daerah tersebut diperkecil.
2. Masing-masing daerah harus membayar ganti rugi perang.
Akibat kehancuran Perang Dunia II berpengaruh dalam kehidupan bangsa dan negara yang bersengketa, baik dalam sektor politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Banyak perubahan yang terjadi dan akhirnya berimbas pada perputaran dunia dalam semua bidang. Berubahnya system multipolar menjadi bipolar dan akhirnya menjadi unipolar.
- Akibat Perang Dunia II dalam sektor politik.
1. Amerika Serikat tidak saja keluar sebagai negara pemenang dalam Perang Dunia II, tetapi juga sebagai negara penyebab kemenangan sehingga kedudukannya memuncak setinggi-tingginya.
2. Rusia keluar dari Perang Dunia II menjadi kekuatan raksasa yang luar biasa sehingga ditakuti oleh negara-negara lainnya dan kemudian menjadi saingan berat bagi Amerika Serikat.
3. Terjadinya perebutan hegemoni antara Rusia dengan Amerika Serikat di dunia.
4. Jatuhnya imperialisme politik yang disebabkan munculnya nasionalisme di Asia dan mulai berkobar dengan hebatnya menentang imperialisme negara-negara Barat (Eropa).
5. Politik mencari kawan (politik aliansi).
6. Balance of Power Policy mengakibatkan politik aliansi yang berdasarkan atas kemauan bersama (Collective Security) sehingga timbulnya:
a. North Atlantic Pact (Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Belgia, Luxemburg, Norwegia, Kanada) merupakan perjanjian militer, di mana tidak aka nada serangan terhadap salah satu negara itu. Organisasi ini lebih dikenal dengan nama North Atlantic Treaty Organization (NATO).
b. Middle Eastern Treaty Organization (METO) dibentuk pada tahun 1955 dan terdiri dari negara-negara Turki, Irak, Pakistan, Iran. Terbentuknya METO mendapat tantangan dari Mesir.
c. South East Asian Treaty Organization (SEATO) yang merupakan rantai pertahanan Amerika Serikat di pasifik adalah usaha untuk membendung kekuatan komunis. Indonesia tidak mau ikut serta di dalamnya. Semua dilakukan untuk mengepung kekuatan Rusia oleh Amerika Serikat. Rusia menjawab tantangan tersebut dengan mendirikan negara-negara sekitar Rumania untuk benteng pertahanan.
7. Munculnya politik pemecah belah terhadap negara-negara seperti Jerman, Austria, Wina, Trieste, Korea, Indo-Cina. Mereka dipecah menjadi beberapa negara pendudukan yang berlainan ideologi dan juga disusupi oleh paham-paham yang berbeda sehingga mereka akan tetap dan selalu bersaing.

- Akibat Perang Dunia II dalam sektor ekonomi.
Setelah Perang Dunia II berakhir, keadaan Eropa sangat kacau dan semakin parah sehingga Eropa tenggelam dalam kesengsaraan dan penderitaan. Amerika Serikat muncul sebagai negara kreditor bagi seluruh dunia yang pada saat itu diyakini memiliki kurang lebih 2/3 cadangan emas dunia. Amerika Serikat mengetahui bahwa Eropa yang rusak akan mudah dicengkeram oleh Rusia dengan komunismenya, karena itu Eropa dan juga negara lainnya harus dibantu agar Amerika bisa dengan mudah menyusupkan paham liberalnya ke Eropa dan sepertinya itu berhasil sampai saat ini. Berkaitan dengan itu ada beberapa lembaga donatur di antaranya:
1. Truman Doctrine (1947), lembaga ini memberi bantuan ekonomi dan militer kepada Yunani dan Turki.
2. Marshall Plan (1947), lembaga ini memberi bantuan ekonomi dan militer untuk membangun kembali ekonomi atas rencana yang terlebih dahulu dibuat oleh negara-negara Eropa dan disetujui oleh Amerika Serikat.
3. Point Four Truman. Lembaga ini memberi bantuan kepada negara-negara yang masih memerlukan bantuan di Asia, dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer (Mutual Security Act = MSA).
4. Colombo Plan (ciptaan Inggris), lembaga ini mengutamakan kerja sama antarnegara di bidang ekonomi dan kebudayaan.

- Akibat Perang Dunia II dalam sektor sosial.
Reaksi yang muncul dalam bentuk kerja sama di antara bangsa-bangsa di dunia. Salah satu berlatar belakang akibat Perang Dunia II ini mendorong masyarakat dunia untuk membentuk United Nation Relief and Rehabilitation Administration (UNRRA) dengan membantu masyarakat yang menderita dalam bentuk:
1. Memberikan makan orang-orang yang terlantar.
2. Mengurus pengungsi-pengungsi dan mempersatukan para anggota keluarga yang terpisah akibat perang.
3. Mendirikan rumah sakit dan balai pengobatan.
4. Mengerjakan kembali tanah-tanah yang telah rusak.
Setelah kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (Union League) dalam menjalankan tugasnya untuk menciptakan dan menjaga perdamaian yang didambakan oleh semua pihak, maka didirikanlah Persekutuan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization) namun lebih dikenal dengan PBB atau UN. Sampai saat ini, PBB masih aktif dalam menjalankan misinya untuk menjaga perdamaian dunia.

C. Identifikasi aktor dalam Perang Dunia II
Perang Dunia II yang dinobatkan sebagai perang terburuk sepanjang abad melibatkan hampir semua Negara-negara kuat di dunia. Negara-negara tersebut dibagi atas dua kubu, yakni Blok Poros dan Blok Sekutu.
- Blok Sekutu:
1. Britania Raya
2. Uni Soviet
3. Amerika Serikat
4. Republik Rakyat China
5. Belanda
6. Perancis
- Blok Poros:
1. Jerman
2. Italia
3. Jepang
4. Hungaria
5. Finlandia
6. Irak
7. Thailand
Menurut pandangan kaum realism, Perang Dunia adalah kritikan terhadap kaum idealis yang cenderung utopis. Negara (state centris) adalah aktor utama dalam hubungan internasional. Bagi Negara, kepentingan nasional adalah sesuatu yang paling penting. Kepentingan berada di atas segalanya, dimana masing-masing Negara selalu mendahulukan kepentingan negaranya sendiri. Jangankan untuk mengorbankan kepentingannya demi Negara lain, Negara realis bahkan akan melakukan apa saja demi terpenuhinya kepentingan negaranya. Karena hal ini, maka muncul lah konflik yang bisa saja menjadi perang.
“Tujuan menghalalkan segala cara.” ¬ -Morgenthau-
Kekuatan utama yang diusung oleh realism adalah militer dimana tujuan utama sebuah Negara adalah bertahan (survive) karena mereka percaya bahwa tidak ada manusia yang baik. Jika pun ada yang baik, itu karena ada keinginan atau kepentingan dibaliknya. Self defence sebuah Negara terletak pada kekuatan militer dan inilah yang terjadi pada Perang Dunia II.
Di Blok Poros, terdapat Nazi Jerman yang berkombinasi dengan Fasisme Italia dan Jepang dibantu beberapa Negara Eropa lainnya. Sedangkan di Blok Sekutu terdapat Amerika Serikat, Inggris, dan uni Soviet serta beberapa Negara lainnya. Jika kita ingin menilik kepentingan masing-masing Negara, maka kita akan menemukan begitu banyak kepentingan di dalamnya yang berbeda-beda namun mereka melakukan aliansi untuk mencapai kepentingan itu. Misalnya saja Jepang, Negara ini saat itu berperang dengan China. Namun, Amerika Serikat membantu China melawan Jepang yang saat itu belum terlibat dalam Perang Dunia. Sehingga, saat muncul konflik yang akan menjadi perang, Jepang dengan yakin membentuk aliansi dengan Blok Poros. Tujuan mereka berbeda namun cara untuk mencapai tujuan mereka masing-masing adalah sama, yaitu berperang dan berada di pihak yang sama. Sedangkan Amerika Serikat, yang merupakan Negara perumus berdirinya Liga Bangsa-Bangsa, memiliki kepentingan sendiri di sini dan karena itu ia melibatkan diri serta memutuskan untuk berdiri di pihak Sekutu. Padahal saat itu, Amerika masih berdiri dengan Politik Isolasinya.

D. Reversibel Perang
Perang Dunia II tidak terelakkan lagi saat Jerman menolak menaati Perjanjian Versailles pasca kekalahannya di Perang Dunia I, yang ditandai dengan penyerangan terhadap Polandia. Konflik yang terjadi telah bertransformasi menjadi perang dan merupakan perang terdahsyat yang pernah ada. Ada beberapa hal yang sangat menarik jika kita melihat sejarah perang ini:
- Munculnya Negara adikuasa, Amerika Serikat. Seandainya, pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang tidak melakukan serangannya terhadap Pearl Harbour, maka Amerika bisa saja tidak menjadi Negara adikuasa. Mengapa? Karena, peristiwa Pearl Harbour telah mempermalukan Amerika dan sejak saat itu Amerika sangat tersulut kemarahannya. Setelahnya, Amerika menjadi Sekutu aktif dalam perang. Padahal kita tahu bahwa Politik Isolasi Amerika masih berjalan saat itu. Sehingga, saat terjadi kemenangan di pihak Sekutu, maka muncul lah dua lagi kubu besar. Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Berkobarnya Perang Dingin oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet yang membuat penduduk dunia hidup dalam kecemasan. Pembuatan senjata kimia dan biologis, pemutusan hubungan diplomatic kedua Negara, dan Uni Soviet yang menutup diri menjadikan perang dingin sebagai perang yang sama mengerikannya dengan perang dunia. Namun, pecahnya Uni Soviet menandakan berakhirnya perang dingin. Walaupun sebenarnya masih sampai saat ini, kedua Negara saling bersaing di bidang persenjataan nuklir. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Negara-negara di dunia. Pada awal tahun 2010, Amerika Serikat dan Rusia setuju untuk mengurangi produksi nuklir mereka. Namun kenyataannya Rusia memiliki kurang lebih 22.000 nuklir, sangat jauh dari jumlah yang disepakati, yaitu 15.000. Tentu saja, hal ini lumayan membuat Amerika gusar. Pasalnya, Rusia masih saja bersikeras memproduksi nuklir. Walaupun begitu, pihak Rusia tentunya memiliki alasan tersendiri mengapa mereka melakukan hal ini. Salah satunya adalah bentuk self defence Negara mereka terhadap Negara-negara lain yang tidak pasti merupakan musuh atau teman. Rusia saat ini sudah membuka diri dengan dunia luar. Tidak ada lagi kesulitan birokrasi yang berkhir di antrian panjang loket-loket apa saja di Rusia. Perusahan Franchise Amerika sudah ada yang masuk dan beroperasi di Rusia walaupun masih ada sedikit ketertutupan, misalnya dengan mengganti merk jual Franchise Amerika yang berbahasa Inggris menjadi bahasa Rusia. Saat inipun pihak Rusia sudah membuka banyak beasiswa bagi siswa luar, khususnya Asia, untuk menuntut ilmu di Negara tersebut.
- Jumlah korban tewas mencapai 62 juta jiwa. Sungguh harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan untuk kepentingan sebuah Negara. Dari pihak Poros, jumlah korban tewas mencapai 50 juta jiwa. Sedangkan di pihak Sekutu, jumlah korban tewas mencapai 12 juta jiwa. Tentunya jumlah yang sangat banyak ini sangat disesalkan. Sekitar 1/5 populasi dunia tewas saat itu. Sehingga perang ini dinobatkan menjadi perang terburuk dalam sejarah manusia.
- Runtuhnya kediktatoran yang menjadi paham dari pihak Poros. Meninggalnya Adolf Hitler (Jerman), Benito Mussolini (Italia), dan Jenderal Hirohito (Jepang) menandakan keruntuhan Nazisme dan Fasisme. Hingga saat ini, sudah tidak ada Negara lagi yang menganut paham ini, paham nasionalisme berlebihan.
- Hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki yang menjadi titik kekalahan Jepang terhadap Sekutu membantu kemerdekaan Indonesia. Celah ini dimanfaatkan Indonesia yang saat itu vacuum of power. Sehingga, Indonesia bisa mencapai kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945
Jika muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah konflik ini bersifat reversible? Menurut saya, konflik yang melahirkan perang ini tidak bersifat reversible karena setelahnya banyak aspek-aspek yang berubah. Jika melihat keadaan pasca perang, kerusakan fisik masih dapat diperbaiki dan sekarang ini hampir sudah tidak ada bekas peperangan, kalaupun ada hanya dijadikan situs sejarah yang menjadi bahan edukasi. Sedangkan dari hubungan diplomatic Negara-negara, terjadi banyak perubahan sejak perang. Yang dulu adalah musuh, kini bisa menjadi teman. Sedangkan yang dulunya teman, sekarang berbalik jadi musuh. Perubahan aspek kehidupan manusia dari banyak sisi menjadikan konflik dan perang ini menjadi titik balik dunia. Maksudnya, perubahan yang terjadi mungkin bisa saja tidak terjadi apabila perang ini tidak terjadi. Hampir semua dampak yang ditimbulkan menjadi hal yang sangat sulit dikembalikan pada keadaan awal. Tidak dipungkiri, perang dunia melahirkan kemerdekaan Indonesia. Namun di sisi lain, banyak sekali dampak negative yang muncul. Salah satunya, berdirinya Negara Amerika Serikat sebagai Negara Adidaya yang ingin menguasai dunia. Andaikata, ia tidak terlibat aktif, bisa saja dunia tidak diselimuti pandangan liberal yang dibawa oleh Amerika. Bisa saja, kita tidak mengenal franchise-franchise Amerika yang kini mendarah daging di Negara kita dan bisa saja kita tidak menjadi Negara miskin.
Beberapa tahun belakangan ini, dikabarkan bahwa telah muncul kekuatan dari Asia yang dinilai akan mampu menyaingi Amerika dalam segala bidang. China dan India kini telah memperbaiki diri. China yang mengalami perkembangan pesat di bidang ekonomi sedikit demi sedikit mengalokasikan dananya ke militer. Mengapa? China yang bersembunyi dalam statusnya sebagai Negara berkembang tidak ingin Amerika meng-cut langkah mereka sedini ini. Maksudnya, China yang dinilai mampu menyaingi Amerika masih butuh waktu untuk benar-benar merasa siap untuk bersaing terang-terangan dengan Amerika. Ideologi kedua Negara tersebut yang sangat berbeda bisa mengakibatkan timbulnya konflik yang bisa saja melahirkan perang. Nah, untuk mengantisipasi hal ini, pihak China telah melakukan pengalokasian dana besar-besaran untuk mengantisipasi langkah Amerika yang mulai cemas dengan perkembangan pesat China.
Bukannya kembali ke keadaan semula, sebelum perang dunia berkobar, keadaan justru menjadi semakin kompleks. Terlalu banyak kepentingan masing-masing Negara yang saling bertentangan bukan tidak mungkin akan melahirkan perang lagi. Walaupun dalam hati saya berharap hal ini tidak akan terjadi lagi, namun jika melihat perkembangan yang terjadi saat ini, paham realism seakan bisa menjawab. Setiap Negara memiliki kepentingan sendiri dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, mulai dari cara persuasive, diplomatis, dan bahkan kekerasan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena kelangsungan hidup Negara adalah hal utama yang harus dipertahankan.
Sebagai contoh, KTT Iklim di Copenhagen, Denmark kemarin yang tidak menghasilkan keputusan vital untuk mencegah perluasan Global Warming menandakan bahwa setiap Negara akan berdiri dengan kepentingannya dan seakan tidak peduli dengan lingkungannya. Walaupun mungkin mereka peduli, mereka tidak akan mengorbankan kepentingan Negara mereka. Sehingga, bisa saja muncul konflik antar Negara. Kemudian, akan lahir politik aliansi dan setelahnya, bisa saja diumumkan perang antar aliansi seperti yang terjadi sekitar 70 tahun lalu.
Kita hanya bisa berharap para pemegang kendali Negara-negara masih memikirkan akibat yang akan muncul setelah terjadi perang. Bagaimana hancurnya aspek kemanusiaan yang telah lama dibangun dan aspek-aspek vital lainnya yang sama pentingnya. Bahwa perdamaian adalah hal yang seharusnya kita jaga.

About these ads

2 gagasan untuk “Perang Dunia II : Perang ‘Total’ Axis vs Sekutu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s