Keinginan Timor Leste menjadi anggota ASEAN

Sebagai bekas provinsi di Indonesia yang keluar dari NKRI sejak 1999, Timor Leste kerap bermasalah dengan perbatasan Indonesia. Timor Leste berharap permohonannya untuk bergabung dengan ASEAN dapat dikabulkan pada masa kepemimpinan Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2012. Permohonan ini sendiri baru dimulai pada tahun ini, sehingga untuk memproses masih butuh beberapa waktu.

Xanana meyakini masuknya Timor Leste ke dalam ASEAN dapat memberikan sumbangan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas kawasan dan juga dapat memberikan keutuhan ekonomi. Apalagi Timor Leste telah mengklaim bahwa situasi negara sedang damai, politik stabil, dan ekonomi sedang berkembang pesat.

Berdasarkan ilmu geografi dan ilmu hukum internasional Timor Leste adalah negara yang berada di kawasan ASIA Tenggara, yang memiliki batasan-batasan teritorial, baik darat-udara-laut dengan salah satu negara anggota ASEAN, semisal Indonesia. Ini adalah suatu sinyal fundamental yang mendorong Timor Leste untuk menjaling kerjasama internsional sebagai perwujudan keaman, ketertiban selayaknya masyarakat internasional yang hidup berdampingan. Target pembentukan komunitas ASEAN di tahun 2015 mendatang akan didasarkan pada tiga pilar utama, yakni Komunitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) dan Komunitas Sosial-budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). Tentunya, cita-cita negara-negara anggota ASEAN dalam mewujudkan point penting ini akan dilandasi dengan berbagai persiapan dari segala aspek dan kerja keras yang benar-benar solid. Berangkat dari cita-cita ASEAN di tahun 2015 ini, seharussnya hal ini dimiliki oleh Timor Leste untuk diperjuangkan dalam tahun-tahun terakhir ini, sebelum menjadi anggota ASEAN. Bila ditelaah lebih dalam, tidak dipungkiri pengembangan dan kemajuan suatu negera menuju kemakmuran hanyalah didasarkan pada ke-tiga pilar ini. Barometer inilah yang menjadi ujung tombak permasalahan yang saat ini sedang dan akan dihadapi oleh Timor Leste, yaitu stabilitas negara, keadaan politik, dan tentunya kemapanan ekonomi. Tentu saja bukan hal yang mudah. Menjadi bagian dari anggota ASEAN yang sebagian Negara telah memiliki kemajuan teknologi, kekuatan perekenomian yang solid, SDM yang mapan, kultur yang kaya juga merupakan salah satu nilai plus yang bisa diambil oleh Timor Leste, apabila sudah menjadi anggota ASEAN. Terlebih lagi, focus pengembangan Negara-negara anggota ASEAN yang dititik beratkan pada Trade dan keamanan adalah sangat bernilai bagi Timor Leste yang masih tergolong cukup muda. Apalagi prinsip tidak mencampuri urusan setiap anggota negara dan menghargai kedaulatan tiap-tiap anggota adalah prinsip absolute dan nilai hukum tertinggi yang dianut oleh ASEAN. Ini merupakan produk hukum ASEAN yang dimiliki oleh tiap-tiap anggota negara, dan bisa dijadikan oleh Timor Lsete sebagai panduan menuju ASEAN di tahun 2012 nanti.

Pada klausula di muka, telah dipaparkan bahwa niat dan keinginan Timor Leste untuk menjadi bagian dari anggota keluarga ASEAN adalah bukan hal yang gampang. Tentunya akan dihadapkan pada berbagai permasalahan yang hingga detik ini, masih menjadi isu nasional dan head line di agenda kerjanya pemerintahan AMP. Masalah nasional yang tengah dicari solusinya, diharapkan bukan tidak menjadi hambatan, melaikan sebagai peluang emas untuk membuktikan kepada masyarakat internasional, bahwa eksistensi Timor Leste di kancah internasional dalam mewujudkan stabilitas nasional dan internasional berdasarkan norma-norma hukum internasional, tidak boleh dipandang lagi dengan sebelah mata.

Untuk memasuki kancah ASEAN, Timor Leste butuh komitmen dan kerja keras yang dinaminis, bukan statis. Kerja keras ini meliputi berbagai aspek, seperti stabilitas, ekonomi, sosial-budaya dan SDM yang tangguh dan professional di masing-masing bidang. Di era serba cepat alias globalisasi ini tentunya membutuhkan pengembangan informasi dan teknologi yang sepadan. Diplomat-diplomat lugas dan terpecaya adalah modal utama apalgi membangung kerja sama internasional di setiap negara-negara anggota ASEAN adalah hal yang mutlak. Oleh karenanya, defisiensi SDM dari segala aspek pembagunan nasional tentu menimbulkan kejanggalan tersendiri dalam persiapan Timor Leste menuju ASEAN.

Hukum diplomatik yang dituangkan dalam Kongress Wina (1815) adalah sebagai landasan hukum untuk semua negara, termasuk Timor Leste, lewat para diplomat yang terpecaya dan mempunyai pengetahuan akan hukum internasional, yang diwakilkan oleh negaranya masing-masing. Oleh karenanya, politik dan kebijakan internasional Timor Leste yang tidak didasari dengan landasan-landasan hukum internasional, akan membuat masyarakat nasional resah dan masyarakat internasional tentunya. Diharapkan agar, panggung politik Timor Leste di kancah internasional dapat menampilkan figure-figure diplomat yang punya loyalty dan kredibilitas serta rekor nasional yang di atas rata-rata. Diharapkan, para diplomat actual dan kandidat diplomat punya pengetahuan yang mendasar menyangkut hukum diplomatic. Dalam hal ini, setelah PBB didirikan tahun 1945, dua tahun kemudian dibentuk komisi Hukum Internasional. Selajutnya komisi ini menangani 27 topik dan sub topik hukum internasional, di mana 7 di antaranya adalah menyangkut hukum diplomatic yang amat esensi agar diketahui oleh seorang diplomat, antara lain:

  1. Pergaulan dan kekebalan diplomatic,
  2. Pergaulan dan kekebalan konsuler,
  3. Misi-misi khusus,
  4. Hubungan antar negara dengan organisasi internasional,
  5. Masalah perlindungan tidak diganggu gugatnya pejabat diplomatic dan orang lainnya yang berhak memperoleh perlindungan khusus menurut hukum internasional,
  6. Status kurir diplomatic dan kantong diplomatic yang tidak diikut-sertakan dalam kurir diplomatic,
  7. Hubungan antara negara dengan organisasi internasional,

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, Timor Leste diharapakan mampu menjadi negara yang mampu bersaing dengan sehat dan memajukan kualitas kawasan ASEAN. Sampai saat ini, Indonesia optimis negara-negara ASEAN yang lain mau menerima Timor Leste sebagai anggota ke-11 kawasan ini. Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengatakan dukungan Kamboja terhadap rencana masuknya Timor Leste dalam ASEAN. Presiden Indonesia, lewat Menlu Marty Natalegawa, mengatakan akan mengadakan diplomasi yang mendukung masuknya Timor Leste dalam kawasan ASEAN. Hal ini menjadi langkah awal yang nyata oleh Indonesia dalam janjinya mendukung masuknya Timor Leste dalam ASEAN.

About these ads

7 gagasan untuk “Keinginan Timor Leste menjadi anggota ASEAN

  1. Secara Garis besar Timor Leste Beloum mampu untuk masuk menjadi anggota ASEAN oleh karena sumberdaya manusia, Ekonomi, sosial politik, dan keamanan sendiri sanggat menurun sehinnga pandangan politik internasional secara tidak langsun perlu adanya kerjasama Indonesia (RI) Timor Leste dalam bidang Pendidikan walaupun Timor Leste mengadoptasi Dua Bahasa yaitu bahasa Portugues yang tidak begitu sukar oleh masyarakat umum, namun untuk Tetum sebagai salah satu bahasa Asli tetapi proses belajar mengajar beloum begitu tersebar luaskan oleh mentri pendidikan. dan juga perpustakaan Nasional sendiri Ingah ada.

  2. menurnut pendapatan saya bahwa ADA TIGA PILAR BAGI TL UTK MASUK ASEAN MAKA : Komunitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) dan Komunitas Sosial-budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community)

  3. TL bukannya belum mampu untuk menjadi anggota ASEAN tetapi belum mampu bro…
    kita memiliki human resources yang masih dipersiapkan bukan tidak ada

  4. Dalam konteks pembahasan di atas memang betul Timor-Leste masih sangatlah mudah, bagi negara-negara angota asean lainnya. Akan tetapi perlu di garis-bawahi, bawah secara geografis letak dan kebeadan Timor-Leste bagian dari regional negara-negara asean lainnya.

  5. ASEAN adalah sebuah organisasi regional yang satu-satunya menjadi target bagi TL dimana bisa memeberikan dampak positif bagi persemakmuran negara2 ASEAN dikawasan ini, dilain pihak Indonesia menjadi negara suporter no 1, itu menjadi hal yang positif bagi politik Internasional untuk mempelajari tentang pemaafan itu adalah awal dari perkembangan suatu negara. apalagi TL dan RI mempunyai kesamaan yakni, Bahasa (Tetum di perbatasan), Cultur, kehidupan sosial (interaktif antara sesama) dan sebagainya.
    saya sanggat apresiasif tindakan kedua negara bahkan menjadi suatu pelajaran bagi negara2 besar yang dalam keadaan komflik hingga sekarang terus melaju

    ok Aluta
    Jhon Ainaro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s